|
Anita Uli, 25 Th, Karyawati, Jakarta
Perjalanan yang sangat panjang namun seru ketika saya berlibur ke Kuala Lumpur, Phuket, Bangkok dan Singapore bersama para sahabat perempuan. This is the first time for us to go. Kami berlibur tanpa guide, hanya bermodalkan PETA dan browsing melalui internet. Kejadian yang tidak akan saya lupakan ketika keberangkatan dari Bangkok-Spore. Luasnya bandara Bangkok dan pemeriksaan paspor yang sangat padat menjadi hambatan dan membuat kami tersesat ketika menuju Gate Air Asia. Kami juga bermasalah dengan muatan bagasi, padahal waktu boarding tinggal 10 menit lagi. Dan di sinilah tragedi itu bermula. |
|
Tanpa sadar ketika bagasi saya diperiksa, saya meminta seorang teman memegang paspor. Usai melalui pemeriksaan kami berlari untuk boarding, namun betapa terkejutnya ketika paspor tidak ada ditangan saya. Sang teman menitipkan paspor tersebut kepada seorang petugas Air Asia dan meninggalkan saya seorang diri di bandara. Saya berteriak agar penerbangan dihentikan, namun apadaya pesawat sudah lepas landas. Kepanikan pun menyerang. Saya merasa lemas, kaki dan tubuh gemetar dan jantung saya berdebar kencang, terlebih lagi saat mengetahui uang Baht didompet sudah tak tersisa. Untungnya masih ada sedikit RM yang bisa saya tukarkan setidaknya untuk makan dan minum.
Dengan kondisi tubuh yang masih lemah, saya mulai mencari tiket pesawat di bandara tersebut. Namun seluruh flight ke Spore sudah FULL BOOK, bahkan untuk penerbangan pesawat internasional yg mahal sekalipun. Tanpa pikir panjang, saya lalu kembali ke petugas yang berbeda. I tell the story and I begging to her, to find 1 ticket for me. THANKS GOD, sang petugas menyisakan tiket untuk saya meskipun harus membayarnya seharga 2 Jutaan (beruntung masih ada kartu kredit). Sebulan kemudian tagihan kartu kredit dan kartu ponsel pasca bayar datang, dan saya hanya bisa berteriak karena jumlah tagihan yang meledak !! |